Kaia Mathala Audrina Widjaja. Anak bungsu dari dua bersaudara, hidupnya sejak kecil penuh warna. Keluarga yang berkecukupan, bisa dibilang “cemara”—tenang, rukun, terkadang juga ramai kalau Kaia udah mulai ngomong. Sang Ayah yang bekerja di bidang Aviasi, Ibunda yang memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga dan sang Kakak, yang mengikuti jejak sang Papa. Tidak seperti sang Kakak dan Papa, Kaia memang terlihat menonjol dalam segala hal. Menonjol yang sebenarnya—sangat berbeda.

Sejak kecil, Kaia memang kelihatan beda. Suaranya nyaring, langkahnya cepat, dan kepalanya selalu penuh ide. Suka main, suka nanya, dan gampang banget kegila-gilaan sama hal baru. Hari ini suka dinosaurus, besoknya pindah ke luar angkasa, minggu depannya jadi mau jadi idol. Itulah Kaia—selalu excited, selalu penuh energi.

Waktu remaja, Kaia makin aktif. Dia bukan tipe anak yang kutu buku banget, tapi juga nggak bisa diem. Di sekolah dia dikenal sebagai si rame-rame tapi baik hati. Sering ikut kegiatan, bantuin ini-itu, dan tentu aja... Suka nonton drama korea. Suatu hari, gara-gara nonton drama korea tentang psikolog yang keren dan misterius, Kaia langsung mikir: “Gue mau jadi kayak dia.” Dari situ, tercetuslah niat masuk jurusan Psikologi. Ajaibnya, ide itu langsung disetujui Mama dan Papa.

Di masa kuliah, Kaia menjalani semuanya dengan semangat, berbekal motivasi-nya yang luar biasa sejak awal. Kuliah? Oke. Tugas? Oke juga, asal nggak diburu deadline. Bahkan, dia lulus dengan predikat sangat memuaskan. Di sela-sela itu, dia aktif di komunitas, nongkrong, bikin konten random, dan tetap jadi si ceria yang selalu punya cerita. Tapi menjelang wisuda datang, satu hal mulai terasa janggal: “Ini bener nggak sih jalan hidup gue?”

Ternyata belajar psikologi itu beda jauh sama nonton drama korea yang dilihatnya. Dan setelah empat tahun, Kaia sadar: dia suka manusia, iya. Tapi kayaknya, dia nggak pengen kerja di bidang ini seumur hidup. Bukan karena ilmunya jelek, tapi karena hatinya nggak sepenuhnya di sana.

Setelah lulus, Kaia mulai mikir lebih jauh. Dia pengen kerja di luar negeri, menyusul kakaknya yang memang home-based di Singapore, cari pengalaman baru, ketemu orang baru, dan belajar hidup mandiri. Tujuan utamanya: UK. Karena dari dulu, Inggris selalu ada di bayangannya—aksennya keren, suasananya estetik, dan hidupnya kayaknya asyik. Tapi pas dia ngomong ke orang tua, langsung kena rem. “Terlalu jauh,” kata Mama. “Kamu belum siap,” kata Papa. Mereka maunya dia tetap di Asia dulu. Deket-deket aja, biar gampang ngawasin.

Sejak saat itu, Kaia jadi ‘pengangguran banyak acara’. Bukannya dia nggak mau kerja, tapi dia pengen kerja yang dia suka dan bisa jadi langkah buat dapetin kepercayaan orang tuanya. Dia ikut pelatihan online, daftar volunteer, cari komunitas internasional, sampai calling dosen-nya dulu, berharap lebih bisa membantu-nya untuk mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Kaia dengan tekadnya, tetap coba yakinkan mereka: “Aku bisa, kok.”

Satu hal yang nggak pernah hilang dari dia adalah semangat. Dia tahu hidup bukan soal cepet-cepetan kerja atau cepet-cepetan S2. Buat Kaia, hidup adalah perjalanan—dan dia masih di tengah-tengah petualangan. Barangkali, ada satu jalan dimana dia akan berlabuh pada akhirnya?